Make your own free website on Tripod.com

Bangsa "Bola Karet''

ADA sebuah kisah yang diceritakan oleh Billi PS Lim. Konon seorang budak yang sedang berlayar dengan Rajanya menjadi begitu histeris karena ada badai di tengah laut. Semua kawannya tidak berhasil menenangkannya. Raja menjadi gusar dan berkata: "Saya sudah tidak tahan lagi dengan keluhan orang ini, apa yang harus saya lakukan?"

Kemudian muncul seorang bijak menawarkan jasanya sambil berkata: "Serahkan saja kepada saya sepenuhnya, tetapi jangan ada komentar sedikit pun atas tindakan saya".

Kemudian orang bijak tersebut menarik budak yang sedang histeris itu, dan menceburkannya ke laut yang sedang mengamuk. Tentu saja budak itu makin histeris dan bertambah panik. Beberapa saat kemudian orang bijak itu memerintahkan para hulubalang untuk mengangkatnya ke atas kapal kembali. Seketika itu pula sang budak menjadi tenang.

Orang bijak itu berkata: "Seseorang tidak akan pernah mensyukuri keadaan hidupnya ketika belum merasakan bagaimana rasanya mengalami penderitaan hidup yang lebih sulit lagi".

Bagi mayoritas rakyat Indonesia yang sedang terbelit dalam cobaan hidup, memang sulit untuk mensyukuri keadaan seperti sekarang ini. Tepat pada langkah pertama memasuki tahun 2003, rakyat Indonesia sudah harus menghadapi sederetan beban kenaikan harga yang datangnya bersamaan, yang tentunya akan diikuti oleh serentetan kenaikan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya.

Sudah banyak keluhan, kekecewaan, keputusasaan, dan kemontar negatif lainnya yang dilontarkan terhadap permasalahan ini. Apalagi kalau melihat perilaku para pemimpin dan pejabat kita yang tidak sensitif dengan penderitaan rakyat.

Namun, kalau kita perturutkan dan larut dalam emosi negatif seperti itu, sebetulnya akan merugikan diri kita sendiri. Ibaratnya kita sendiri yang meminum racun tetapi berharap para perusak negeri inilah yang akan keracunan. Emosi negatif adalah kabut yang dapat menghalangi kita untuk melihat dan berpikir secara jernih, dan akhirnya sulit bagi kita untuk mengambil tindakan yang konstruktif dan kreatif.

Sebagai rakyat kita harus berdaya untuk bangkit menghadapi segala kesulitan karena berbagai kesulitan itu tidak akan terpecahkan hanya dengan keluhan dan umpatan. Ada yang mengatakan bahwa kesulitan dan rintangan hidup ternyata memang diperlukan untuk bisa sukses mengarungi hidup. Saya teringat ketika kecil ayah saya sering berkata bahwa pohon yang sejak kecilnya sering digoyang akan menjadi pohon yang kokoh dan kuat.

Thomas Edison, seorang penemu bola lampu pernah ditanya mengenai mengapa ia bisa menjadi sukses. Ia menjawab bahwa ia bisa berhasil karena telah mengalami beribu-ribu rintangan. Konon ia berhasil menciptakan bola lampu pada percobaannya yang ke-2000. Sikap positif dalam menghadapi kegagalannya juga terlihat ketika ia menyaksikan pabriknya habis dilalap api. Ketika istri dan anaknya bersedih menatap kobaran api, Thomas Edison bahkan tersenyum dan berkata: "Saya bersyukur karena semua kesalahan telah berakhir, dan kita akan memulai lagi dengan yang baru".

Coba bayangkan kalau Thomas Edison mengeluh dan meratapi setiap kegagalan dan kesulitan yang dihadapinya, atau berhenti untuk terus mencoba sehingga ia tidak dapat menemukan teknologi lampu. Seseorang yang berpikir positif dapat melihat sebuah kesulitan sebagai kesempatan, bukan sebagai hambatan.

Saya mendengar beberapa orang yang menceritakan kiat-kiatnya menghadapi segala kenaikan harga kebutuhan hidupnya akhir-akhir ini. Ada seorang suami yang sekarang membawa bekal makanan dari rumah untuk makan siangnya sehingga dapat menghemat paling sedikit Rp 5.000 per hari. Ada seorang ibu yang mengurangi frekuensi berpergian yang tidak perlu, dan mengurangi waktu ngobrol dengan kawannya di telepon, atau mengajarkan anak-anaknya untuk berani tidur dalam gelap. Ada juga yang berpikir bagaimana menambah penghasilan di waktu senggangnya. Ternyata manusia bisa memilih apakah mau menjadi kaleng yang sekali tendang penyok, atau menjadi bola karet walaupun ditendang sekeras apa pun, akan kembali lagi (bounce back), tidak menjadi penyok.

Banyak sekali kisah orang sukses yang justru diakibatkan oleh banyaknya kegagalan. Namun kadang-kadang kita perlu diingatkan untuk belajar dari pengalaman orang lain bahwa kesulitan ternyata dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk kita dapat membangun kehidupan. Baru-baru ini anak pertama saya bercerita tentang kawannya yang bekerja menjadi tukang fotokopi di kios alat-alat tulis di dekat rumah. Setiap ia datang ke kios tersebut, kawannya selalu mengeluhkan kesulitan hidupnya; entah upahnya yang terlalu kecil yang hanya Rp 250.000, atau istrinya yang sedang hamil, atau ketakutan menghadapi hidup, dan bermacam keluhan lainnya.

Suatu saat anak saya membaca buku Rich Dad, Poor Dad karangan Robert Kiyosaki yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ia teringat kawannya itu dan berpikir bahwa kalau kawannya mau membacanya, pasti akan berubah pandangan hidupnya. Ternyata betul, dua minggu kemudian kawannya mengembalikan buku itu sambil bercerita tentang "kesuksesannya". Katanya buku itu telah mengubah drastis cara berpikirnya menjadi penuh inspirasi dan semangat.

Ia mempunyai tabungan sebesar Rp 200.000 yang ia sedang persiapkan untuk kelahiran anaknya. Ia berani mengambil risiko dengan menginvestasikannya untuk membeli peralatan jagung bakar. Dengan memperkerjakan adiknya, ia membuka usaha jagung bakar di malam hari di sebuah lokasi yang ramai pembelinya. Dalam waktu seminggu, modalnya sudah kembali. Sekarang ia dapat penghasilan tambahan bersih satu malam kira-kira sebesar Rp 30.000, cukup untuk menambah kebutuhan hidupnya ketika anaknya lahir, plus membuka peluang adiknya untuk meneruskan sekolahnya ke STM berikut uang sakunya.

Daripada berharap kepada ketidakmampuan pemerintah untuk memperbaiki negeri ini, lebih baik kita bahu-membahu untuk mengubah hidup ini, sedikitnya dimulai dari mengubah cara pandang negatif menjadi positif. Mungkin ada baiknya bagi mereka yang mampu untuk berderma dengan memberikan "pancing", misalnya menghibahkan atau meminjamkan buku seperti yang dilakukan oleh anak saya, yang ternyata telah mengubah hidup seseorang dan keluarganya. Buku-buku karangan Kiyosaki, atau seri yang dikarang oleh Billi PS Lim berjudul Berani Gagal (Dare to Fail), atau Andrias Harefa Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup adalah buku-buku yang dapat memberikan inspirasi bagaimana menjadi manusia "bola karet".

Siapa tahu Tuhan masih sayang dengan bangsa ini dengan mempersiapkan kita untuk menjadi sebuah bangsa besar kelak, yaitu dengan diberikan banyak cobaan, seperti pohon yang terus digoyang agar tumbuh kuat. Saya yakin, kalau ada banyak individu yang berjiwa pantang menyerah, dan kenyal seperti bola karet, serta berakhlak mulia, semua cobaan dan kesulitan akan menjadi papan pegas (spring board) untuk kita bisa melompat ke atas dan menjadi sebuah bangsa besar.


Last modified: 9/1/2003