Make your own free website on Tripod.com

Baik Versus Jahat

Ratna Megawangi

DILAPORKAN, pada awal era perestroika, Gorbachev pernah berbicara kepada Presiden Reagan, "I'm going to do something terrible to you; I'm going to take away your enemy." Inilah awal dari berakhirnya Perang Dingin. Yang dimaksud dengan terrible ternyata memang membuat Pemerintah Amerika Serikat "kerepotan" mencari musuh baru.

Pada masa Perang Dingin, AS selalu melihat Uni Soviet sebagai sosok evil (jahat) komunis yang harus dimusuhi, dan kalau perlu dimusnahkan. Perang Vietnam yang memakan korban jiwa jutaan penduduk sipil di Vietnam, dan lebih dari 50 ribu tentara AS, merupakan salah satu manifestasi dari perlunya sosok "baik" memusnahkan sosok "jahat" di muka bumi.

Entah suatu kebetulan atau tidak, dua bulan setelah tembok Berlin runtuh, AS menginvasi Panama. Selanjutnya, ada poros kejahatan baru (Axis of Evil) yang harus diperangi. Dalam kurang dari dua tahun terakhir, pemerintah AS telah memorak-porandakan Afghanistan dan Irak sebagai manifestasi dari perlunya memusnahkan sosok "kejahatan" dari muka bumi.

Matinya ribuan jiwa penduduk yang tak bersalah mungkin dianggap sebagai ongkos yang memang harus dibayar agar "kebenaran" bisa ditegakan. Bahkan, siapa saja bisa dianggap evil kalau tidak berada di pihak AS, seperti pernyataan Presiden Bush, "You are with us, or against us".

Apa yang dilakukan rezim Nazi yang telah membunuh 11 juta manusia (6 juta jiwa orang Yahudi, dan 5 juta orang Eropa Timur, gypsy, dan para penyandang cacat fisik dan mental) adalah juga manifestasi dari sosok "kebenaran" (Ariosophy) yang ingin membasmi "evil", yaitu sosok yang akan mengontaminasi kemurnian bangsa Arya. Mirip halnya dengan "You are with us, or against us", ada sebuah lagu yang berbunyi: Who'er against us stands/Shall fall beneath our hands/Our lives and loyalty,/Our Fuhrer, are pledged to thee (Siemsen, Hitler Youth).

Hal yang sama terlihat pula pada tragedi pembersihan etnis di Bosnia-Herzegovina, pembantaian massal di Kamboja oleh Khmer Merah, pembersihan etnis Tutsi oleh etnis Tutu di Ruwanda, dan lain-lain. Semuanya dengan alasan menegakkan kebenaran dengan menghancurkan kejahatan. Konflik "salah versus benar, kita versus mereka" ini bisa terjadi pula pada antarpartai politik, agama, antarfakultas pada satu universitas, antarindividu, termasuk juga antarpendukung klub sepakbola.

Peristiwa bentrokan antara partai Golkar dan PDI-P baru-baru ini di Buleleng, Bali, pada esensinya sama, bahwa masing-masing partai menganggap dirinya sosok baik yang harus mengambil tampuk kepemimpinan karena partai lain adalah sosok jahat yang harus dicegah agar tidak dapat berkuasa. Bahayanya, dengan kepercayaan "baik versus jahat, kita versus mereka" ini, manusia atau kerumunan manusia dari kelompok lain ("jahat") bisa dianggap sebagai benda atau "kutu" yang harus dimusnahkan. Saya bayangkan bagaimana oknum-oknum yang mengeroyok dua orang kader Golkar sampai mati, seperti menggebuki kecoa dengan penuh nafsu.

Keinginan untuk menegakkan kebenaran dengan memusnahkan kejahatan ternyata justru dapat menghasilkan tragedi kejahatan yang mengerikan. Kalau kita memakai perspektif psikologi Jungian, mencari kambing hitam atau mencari pihak yang salah adalah sumber dari segala kejahatan.

Seperti yang ditulis oleh Scott Peck dalam The People of the Lie bahwa "scapegoating is the genesis of human evil". Karena manusia cenderung melihat dunia sebagai hitam versus putih, atau baik versus jahat, maka hanya ada satu pilihan, hanya diri/kelompok kami yang benar, dan orang/kelompok lain yang jahat. Walaupun kita sering mendengar ungkapan "tidak ada manusia yang sempurna", dalam realitasnya manusia cenderung menyangkal kekurangan diri/kelompoknya.

Padahal kalau kita melihat esensi ajaran seluruh agama, adalah bagaimana kita menegaskan bahwa hanya Tuhanlah yang Baik. Karena Kebaikan (goodness) adalah Kebenaran (Truth). Bahkan Isa Al Masih pun pernah berkata ketika seorang yang datang berkata, "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain daripada Allah saja" (Markus 10: 17-19). Juga dalam Islam, setiap Muslim dianjurkan untuk berzikir setiap saat dengan menegaskan kalimat "Laa Ilaaha Illallah", yang artinya "Tidak ada tuhan (kebenaran/kebaikan) selain Allah".

Karena itu, mengklaim diri/kelompok paling benar adalah pelanggaran yang mendasar dari esensi ajaran agama karena telah mengambil alih kedudukan Tuhan. Seperti halnya setiap pelanggaran, pasti akan membawa kemudaratan. Inilah yang mungkin dimaksud mengapa mengklaim diri benar sebagai akar dari kejahatan manusia (the genesis of human evil). Karena hal itu pasti membawa kepada pencarian kambing hitam sebagai pihak yang salah, dan seterusnya pihak yang salah harus dimusnahkan dari muka bumi (pembataian manusia).

Banyak teks Sufi yang menggambarkan jiwa manusia yang memiliki sejumlah besar kemungkinan, yang kebanyakan bersifat negatif, yaitu sifat kebesaran (rububiyyah), seperti sombong, tak terkalahkan, agung, ingin dipuji. Selain itu, juga sifat setan seperti penipu, licik, dengki, iri, dan kejam, serta sifat-sifat hewan (nafsu badaniah). Namun ada juga sifat-sifat hamba seperti takut dan rendah hati, tapi sering dirancu oleh sifat-sifat negatif di atas. Adalah tugas manusia untuk membersihkan jiwanya sehingga sifat hamba sejati dapat terwujud (baik hati, ingin menolong, takut berbuat salah).

Pembersihan jiwa inilah yang mungkin menurut CG Jung sebagai "realizing the shadow" atau menerima keberadaan sisi gelap atau kekurangan diri sendiri. Setiap manusia mempunyai sisi gelap. Namun ego kita selalu berilusi bahwa diri adalah terhormat dan baik sehingga kita tidak menyadari keberadaan sisi gelap kita. Menurut Jung, seseorang tidak dapat menjadi manusia yang tercerahkan kalau tidak menyadari sisi gelapnya. Sisi gelap yang terpendam di alam bawah sadar suatu saat akan termanifestasi dengan cara memproyeksikannya kepada orang lain (scapegoating), dan selanjutnya menghasilkan kejahatan seperti telah diuraikan di atas.

Keberadaan sisi gelap pada tingkat individu berlaku juga pada tingkat kelompok, termasuk bangsa. Tidak ada satu pun bangsa yang sempurna; jadi pasti ada sisi gelapnya. Suatu bangsa yang secara budaya selalu menganggap dirinya bangsa besar, maka sisi gelapnya akan menjadi "collective unconsciousness" yang akan diproyeksikan kepada bangsa lain.

Jadi, menciptakan musuh adalah kebutuhan bagi suatu bangsa yang merasa diri paling benar karena tanpa musuh tidak ada lokus untuk memanifestasikan sisi gelap bangsa tersebut. Peradaban manusia tidak akan pernah lepas dari konflik dan peperangan kalau keberadaan sisi gelap bangsa atau diri sendiri selalu dinafikan.

Mungkin apa yang dilakukan Gorbachev bisa dijadikan contoh bagaimana suatu negara yang dulu dianggap angker (negara tirai besi) bisa berubah citranya sebagai negara yang lebih bersahabat. Gorbachev mengakui betapa besar kesalahan yang dilakukan oleh bangsanya dalam "meracuni dan membohongi" pemikiran generasi muda Soviet dengan pemikiran Stalin.

Sebab itu, Juli 1988, ia menghapuskan ujian mata pelajaran sejarah Soviet yang seharusnya diikuti oleh 53 juta murid sekolah. Surat kabar milik pemerintah, Izvestia, bahkan menulis, "Kita sekarang telah memakan buah pahit dari kekacauan moral yang kita tanam sebelumnya. Kita harus membayar segala sesuatu yang kita diamkan saja berkepanjangan, yang telah membuat muka kita merah karena malu, dan kita tidak tahu bagaimana harus menerangkannya secara jujur kepada anak-anak kita" (Philadelphia Inquirer, 11 Juni 1988).

Kalau saja manusia mau berendah hati menerima kekurangannya, maka kita akan belajar bagaimana memperbaiki diri, atau kita dapat berpaling kepada Tuhan memohon ampunan dan rahmatNya. Tanpa adanya dosa, bagaimana kita merasakan ampunan dan rahmat Tuhan? Tanpa mengakui dosa kita, bagaimana manusia membangun peradaban yang lebih baik?


Last modified: 31/10/03