Make your own free website on Tripod.com

Titik Pandang

Tikus yang "GR"

Ratna Megawangi

ADA sebuah cerita fabel yang menjadi favorit saya sehingga sering saya gunakan kalau sedang ngompol ("ngomong politik") dengan suami. Cerita ini agak nakal sehingga suami saya suka mengingatkan saya untuk tidak memakainya dalam pembicaraan publik, terutama dalam rubrik ini. Apalagi katanya saya perempuan, tidak pantas menceritakannya. Namun perlu juga saya bandel sedikit karena cerita ini juga menjadi favoritnya Peter Berger, seorang sosiolog dari Boston University, AS, sehingga ia menuliskannya di dalam bukunya yang berjudul A Rumor of Angels, sebuah buku serius tetapi penuh dengan lelucon sarkasme.

Alkisah, ada seekor tikus jantan yang naksir seekor gajah betina, tetapi tidak berani mengungkapkannya. Suatu hari mereka berpapasan. Si gajah menyapa ramah si tikus, "Halo tikus... kamu begitu kecil, dan aku begitu besar... lucu sekali." Merasa mendapatkan keramahan, si tikus menjadi berani dan berkata, "Oh gajah, engkau begitu manis dan sexy." Lanjutnya, "Aku begitu suka sama kamu sehingga aku sudah lama memendam hasrat." Lanjutnya lagi, "I want to make love with you. Will you let me?"

Mendengar kata-kata tikus, si gajah tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Tentu, tidak ada masalah," sambil merebahkan tubuhnya di bawah pohon kelapa. Sang tikus kecil begitu gembira. Ia dengan begitu sibuk berupaya melampiaskan hasrat lamanya. Si gajah tentu saja tidak merasakan apa-apa sehingga ia jatuh tertidur. Tiba-tiba ada angin kencang berhembus, dan sebuah kelapa terjatuh tepat mengenai kepala gajah yang sedang tertidur pulas sehingga ia terbangun dan berteriak, "Aduh... sakit!!!" Si tikus dengan tersenyum bangga dan mengerdipkan sebelah matanya, memandang gajah dan berkata, "Oops sorry... aku membuat kamu sakit ya?!"

Sebagai sahabat, mereka sering jalan bersama. Suatu hari, ketika gajah mengajak tikus untuk menyeberangi jembatan di atas sungai, jembatan bergoyang keras. Sesampainya di seberang, si tikus berseru dengan bangga, "Wow... kita tadi dapat menggoyangkan jembatan sebesar itu!"

Mungkin sindrom "Tikus GR" juga sedang dialami oleh banyak dari antara para politisi di mana saja. Begitu hebatnya mereka menilai dirinya sehingga merasa "berdosa" kalau tidak ikut pesta politik untuk menjadi pemimpin atau wakil rakyat. Seperti yang dikatakan oleh seorang mantan pejabat ketika ditanya alasannya terjun ke dunia politik. Menurutnya, "Apa pertanggungjawaban saya di akhirat nanti?" "Negara dalam keadaan krisis, maka saya berkewajiban untuk memperbaikinya."

Kita semua pernah mengalami masa ini ketika kecil, yaitu kebiasaan mengkhayal bahwa "aku adalah superman" atau "pahlawan yang memberantas kejahatan" atau "putri cantik dambaan pangeran." Namun, masa ini biasanya akan lewat melalui proses pendewasaan menuju kepribadian sehat (healthy ego). Kenyataannya, banyak orang dewasa yang masih mempunyai sifat kekanak-kanakan (infantile) itu, yang sering disebut infantile megalomania.

Dalam mitos Yunani kuno, ada sebuah kata yang mungkin juga tepat untuk menggambarkan sikap megalomania ini, yaitu hubris. Hubris dikaitkan dengan "pretension to be godlike", yaitu kepercayaan bahwa diri adalah tuhan yang hebat atau suci. Dalam kamus Merriam-Webster, hubris berarti "exaggerated pride or self-confident". Orang seperti ini mempunyai kepercayaan diri yang berlebihan sehingga tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya dibohongi oleh fantasinya.

Sifat hubris dalam permainan politik tampaknya memang diperlukan karena sifat ini selalu menolak kenyataan bahwa ada figur/kelompok/ partai lain yang lebih baik. Selain itu, orientasinya adalah bersaing untuk merebut kekuasaan yang kursinya amat terbatas sehingga para pemain politik terdorong untuk mempromosikan dirinya. Kalau yang dipromosikannya tentang kehebatan dirinya memang sesuai dengan kenyataan, mungkin tidak jadi masalah. Namun, kekuatan hubris dapat menipu massa sehingga rakyat kebanyakan mudah termakan oleh janji-janji (fantasi) dari para politisi.

Rakyat Amerika Serikat pun bisa termakan propaganda Presiden George W Bush untuk mendukung misinya untuk mewujudkan "perdamaian" dunia. Bush adalah salah satu pemimpin yang mengalami sindrom hubris. Ia pernah mengaku mendapatkan bisikan Tuhan untuk menegakkan "kebenaran" di muka bumi. Baginya, menegakkan freedom and democracy di dunia Arab adalah misi "suci" yang harus dijalaninya, at all cost.

Berhubung hubris ini bertumpu pada fantasi kebaikan, kehebatan, dan kepahlawanan, maka mereka yang terkena sindrom itu selalu merasa bahwa apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukannya adalah demi kebaikan rakyat, negara, dan bangsa.

Seorang sastrawan peraih nobel pada tahun 1921, Anatole France, pernah berkata, "Those who have given themselves the most concern about the happiness of peoples have made their neighbors very miserable." Jadi, justru yang membuat kehidupan rakyat menjadi menyedihkan adalah mereka yang selalu membual bahwa dirinya adalah orang yang paling peduli dengan kesejahteraan rakyat. Banyak sekali contoh dalam sejarah peradapan manusia bagaimana rakyat yang sengsara diakibatkan oleh ulah para pemimpin dan politisi yang merasa dirinya "pahlawan" bangsa.

Hal itu terjadi karena hubris bersumber dari sifat iblis yang berfantasi bahwa dirinya paling hebat sehingga menolak perintah Tuhan untuk bersujud di hadapan Adam. Alasannya, "Aku lebih baik daripadanya, Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah" (QS 7:12). Siapa saja yang meniru sifat setan, yaitu senang berfantasi tentang kehebatan dirinya, hasilnya pasti kemudharatan. Maka, tidak mengherankan kalau Anatole France berkata seperti di atas.

Padahal justru banyak kebaikan dihasilkan oleh orang-orang yang tidak pernah merasa diri hebat, yaitu dengan diam-diam tanpa harus mempromosikan dirinya, terus melakukan pekerjaan mulia, atau selalu memberikan nilai tambah kepada masyarakat (added value). Mereka yang sebenarnya "gajah" itu selalu melakukan sesuatu yang dapat memberi manfaat bagi lingkungannya, tanpa pamrih, dan tidak mengharapkan imbalan, pujian, apalagi kekuasaan. Mereka inilah yang justru dapat mengubah dunia menjadi lebih baik walaupun mereka tidak pernah berpikir demikian.

Gary North pernah berkata bahwa kunci dari kesuksesan seseorang adalah "You have to serve someone". North mencontohkan bagaimana Ibu Teresa yang mengorbankan dirinya untuk orang lain, dan tidak mengharapkan imbalan uang, tetapi bisa begitu berhasil dalam pekerjaannya. Di akhir hidupnya, ia telah memimpin 700 pusat pelayanan untuk orang-orang miskin di lebih dari 100 negara. Ordonya telah mempunyai 5.000 orang biarawati. Padahal beliau tidak bisa memakai komputer, apalagi internet, untuk berkorespondensi. Di Indonesia, kita mempunyai Haji Arfa'e, walaupun hanya sendirian, dapat menyelamatkan sebuah pulau dari ancaman tenggelam (Pulau Bawean), yaitu dengan menanam bakau (mangrove).

Saya khawatir dengan adanya pesta demokrasi tahun 2004 nanti, banyak rakyat kebanyakan yang tidak mengetahui mana yang sebenarnya "gajah", dan mana yang merasa gajah padahal "tikus". Hanya ketika mayoritas rakyat tercerahkan dan kritis, maka para "tikus GR" itu tidak mungkin terpilih. Atau untuk sementara, rakyat perlu melihat bukti konkret "apa yang telah diperbuat untuk kebaikan orang banyak", bukan "apa yang dikatakannya".


Last modified: 11/12/03