Make your own free website on Tripod.com

MENUMBUHKAN EMPATI  DENGAN

KEPEDULIAN DAN KASIH SAYANG KEPADA ANAK

Ratna Megawangi

 

Ada sebuah kisah nyata yang bukunya telah menjadi best-seller, berjudul Sheila.  Dikisahkan bagaimana Sheila ketika kecil yang masih berumur 6 tahun senang menyakiti binatang dan kawannya.  Ia pernah mencongkel mata ikan hidup-hidup, dan juga pernah menculik anak usia 3 tahun untuk dibakar.  Sheila adalah seorang anak yang tidak mempunyai rasa empati, yaitu kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain.

 

Alfred Adler mendefinisikan empati dengan kemampuan seseorang untuk “melihat dengan mata orang lain, mendengar dengan kuping orang lain, dan merasakan dengan hati orang lain”.  Rasa kepedulian, kasih sayang, dan keinginan menolong sesama adalah bersumber dari adanya rasa empati pada diri seseorang.  Seorang  yang mempunyai rasa empati dapat merasakan penderitaan orang lain, binatang, atau makhluk hidup lainnya, sehingga timbul keinginan untuk dapat berbuat sesuatu untuk menolong atau meringankan penderitaan sesama makhluk hidup.

 

Orang yang mempunyai rasa empati tinggi biasanya dermawan, disenangi dalam pergaulan, mudah menyesuaikan diri, dan percaya diri.  Bahkan hasil penelitian Gallo (1989) menunjukkan adanya hubungan yang erat antara rasa empti dan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta keberhasilan akademik.

 

Menumbuhkan rasa empati harus dimulai sejak kecil, mulai dari dalam keluarga dan sekolah.  Lingkungan yang penuh cinta dan rasa aman adalah prasyarat penting bagi tumbuhnya empati pada anak.  Seorang anak yang terbiasa menerima perlakuan kasar dari orang tuanya, akan keras hatinya sehingga cenderung tertutup rasa empatinya untuk merasakan penderitaan orang lain.  Sheila adalah anak yang dilahirkan oleh seorang gadis berusia 14 tahun yang memperlakukan Sheila dengan kasar.  Bahkan ia pernah dibuang oleh ibunya di pinggir jalan, serta sering mendapatkan pukulan dari ayahnya.

 

Menghardik dan memukul anak apabila berbuat salah akan menghambat rasa empati, Karena anak akan cenderung membela dirinya, sehingga hatinya akan mengkerut.  Hati yang mengkerut dan mengeras adalah hati yang marah dan dendam.  Tetapi dengan mengalihkan anak untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain akibat tindakannya yang salah, akan meluluhkan hatinya, sehingga hatinya menjadi lapang.  Hati yang lapang adalah hati yang penuh kasih sayang dan cinta.

 

Maka, prasyarat untuk menumbuhkan rasa kasih sayang dan empati kepada anak adalah dengan memberikan cinta dan kasih sayang sebesar-bearnya kepada anak sejak kecil.  Selain cinta dan  rasa aman, orang tua dan guru perlu mengajarkan anak untuk menempatkan dirinya pada orang lain.  Seorang sahabat saya  (sebut saja Ali) yang sangat dermawan dan baik hati pernah bercerita tentang ibunya yang menanamkan rasa empati ketika ia kecil.  Ibunya setiap hari bekerja di sawah dan menumbuk padi, tetapi Ali lebih senang bermain bola ketimbang membantu ibunya

 

Ibunya tidak pernah memarahinya, tetapi kerap berkata: “Tangan ibu bukan besi, urat ibu bukan kawat sehingga capek rasanya badan ini.  Lihatlah muka ibu yang setiap hati bekerja keras agar kamu bisa makan, apakah kamu tidak kasihan?” Ali menceritakan betapa luluh hatinya ketika melihat muka ibunya yang memelas, dan keesokan harunya Ali pasti membantu ibunya menumbuk padi.

 

Peran sekolah juga tidak kalah pentingnya untuk membangun rasa empati anak.  Misalnya, dengan tersedianya kurikulum khusus yang mengajarkan murid-murid rasa empati, akan mengurangi tingkat pelecehan antar kawan, perkelahian, dan kekerasan di sekolah.  Apabila sejak kecil anak-anak sudah terbiasa untuk “mendengar, melihat, dan merasakan” dengan perspektif orang lain, maka jangankan menyakiti dan merugikan orang lain, tanaman pun tidak mau mereka sakiti.

 

Kurikulum kegiatan Semai Benih Bangsa menerapkan pendidikan holistik berbasis karakter, yang salah satu pilar karakternya adalah mengajarkan kepedulian, kasih sayang, dan sifat menolong kepada sesama manusia dan seluruh ciptaan Tuhan.  Insya Allah, ternyata anak-anak SBB sudah dapat mengerti bagaimana memahami perasaan kawan dan gurunya.