Make your own free website on Tripod.com

SEMAI KARAKTER BANGSA

PERILAKU TIDAK JUJUR PELAJAR

 

Russell T. Williams

(Passkeys Jefferson Center for Character Education

Ratna Megawangi

(Indonesia Heritage Foundation)

 

Apakah perilaku curang merupakan isu penting?  Sering kita mendengar kasus beberapa atlit yang terlibat doping karena ingin menjadi juara. Entah itu melibatkan atlit kaliber olimpiade, nasional, ataupun tingkat lokal.  Majalah Current Health melaporkan hasil polling bahwa 80% dari 3000 murid SMU di AS mengaku pernah berlaku curang di sekolah. Hal yang sama berlaku juga di Australia, dimana Godfrey dan Waugh (1998) melaporkan bahwa hasil survey di 16 negara bagian Australia yang terdiri dari 6000 siswa, 76% mengaku pernah berlaku curang secara akademik.. Menurut sumber tersebut tingkat kecurangan di sekolah-sekolah yang berbasis agama juga mempunyai tingkatan yang sama.

 

Di Indonesia belum ada datanya, tetapi pasti tinggi juga. Rasanya hampir setiap tahun pasti ada berita tentang kebocoran ebtanas baik dari tingkat SD, SMP, maupun SMU. Baru-baru ini bahkan beberapa sekolah SMU terpaksa harus mengulang ebtanas karena ditemukannya kasus kebocoran.

 

Kecurangan yang dilakukan oleh kalangan siswa dan mahasiswa mungkin patut menjadi perhatian serius. Kecurangan adalah isu karakter, karena ini menyangkut kejujuran dan integritas. Anehnya, seperti yang dilaporkan dalam Current Health hampir 50% siswa menganggap bahwa perbuatan curang adalah sesuatu hal yang biasa, dan dilakukan oleh baik siswa yang bodoh maupun yang pintar. Kami yakin hampir semua siswa dan mahasiswa pasti mengetahui bahwa menyontek, menjiplak, membawa kertas catatan ke ruangan ujian, adalah perbuatan tidak jujur, dan secara moral tidak bisa diterima. Namun ternyata banyak yang melakukannya. Jadi ada kesenjangan antara apa yang diketahui, dan apa yang dilakukannya. Hal ini sesuai dengan hasil kajian Godfrey dan Waugh tentang rendahnya hubungan antara moral pada tingkat kognisi (pengetahuan) dan moral pada tingkat perbuatan.

 

Perilaku curang di dalam kelas memang bisa dikurangi dengan memberikan sanksi yang lebih keras, pengaturan tempat duduk, dan kontrol ketat dari guru. Seperti halnya tingkat korupsi di negara-negara yang sistem hukumnya berjalan dengan baik dan dilakukan secara konsisten, akan jauh lebih rendah dibandingakan di negara yang sistem hukumnya amburadul. Ini semua adalah kontrol eksternal yang membuat seseorang tidak mau korupsi karena takut dengan sanksi hukum yang berat, bukan karena ia memang jujur. Kontrol eksternal adalah penting dan perlu, namun ini bukanlah isu dalam membahas bagaimana membangun karakter bangsa.

 

Ada sebuah pepatah, character is what you are when no one is looking (karakter adalah apa adanya kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat). Jadi, seseorang mau berlaku jujur karena ada kontrol internal yang kuat untuk tidak berlaku curang, dan ini sudah menjadi karakternya, dilihat atau tidak dilihat orang. 

 

Ada seorang kawan yang bercerita tentang bagaimana sulitnya menghidupkan kontrol internal yang ternyata merupakan proses “peperangan” batin. Suatu saat ketika ia masih duduk di tingkat pertama di sebuah universitas negeri, ia mengikuti ujian fisika. Dari 10 soal yang diberikan, ada 3 soal yang harus memakai rumus tertentu dan ia lupa sama sekali. Kalau saja ia ingat rumusnya pasti ia akan mendapatkan nilai sempurna 10. Ia tidak mau mencontek, apalagi bertanya kepada kawan. Namun kawan di depannya tanpa sengaja mengangkat kertasnya untuk diperiksa ulang, dan lembar ujiannya tampak jelas olehnya, dan kebetulan yang terbaca adalah rumus yang ia tidak ingat.

 

Awalnya ia gembira karena mendapatkan rumus dan segera ia menyelesaikan ketiga soal yang belum dikerjakan tadi dengan cepat. Namun ketika selesai, terjadilah pertentangan batin dalam dirinya. Apakah ia akan membiarkan dirinya berlaku curang dan mendapatkan nilai sempurna, atau mempertahankan kejujuran tetapi hanya mendapatkan nilai 7? Hampir 30 menit terjadi tarik menarik antara ya dan tidak, dan ia akhirnya memutuskan untuk mendapatkan nilai 10. Entah kekuatan dari mana, ketika kertas ujian harus dikumpulkan, tiba-tiba ia berubah pikiran dan segera menghapus ketiga soal yang telah dikerjakannya. Ia sempat ditegur oleh pengawas, bahkan kertas ujiannya direbut karena dianggap masih mencuri waktu. Walaupun ia dimarahi oleh pengawas karena ingin berlaku jujur, namun ia menggambarkan betapa gembiranya ketika keluar dari ruang kelas. Sebuah kepuasan yang tiada tara bak menyambut sebuah kemenangan yang besar.

 

Jefferson Center for Character Education setiap tahun memberikan penghargaan kepada siswa SMU yang berprestasi dalam bidang etika moral dan pelayanan sosial. Tahun 2000 yang lalu seorang siswa mendapatkan penghargaan karena keberhasilannya dalam melibatkan “OSIS” untuk menandatangani “No Cheating Agreement:” Proyek “No Cheating” ini dianggap berhasil karena telah memberikan kesadaran baru kepada para siswa di sekolah tersebut untuk menerapkan prinsip “berhasil dengan kejujuran”.

 

Ternyata dengan proses pendidikan melalui diskusi, dialog, dan membangkitkan kesadaran yang dilakukan siswa untuk siswa, adalah tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kontrol eksternal seperti peraturan dan sanksi. Kontrol internal akan lebih efektif, sedangkan mengandalkan kontrol eksternal saja akan tetap membuat seseorang berlaku curang kalau ada celah dan kesempatan. Bagi para guru atau orang tua yang ingin mencari informasi dan ide-ide untuk meningkatkan standar etika di sekolahnya dapat melihat langsung ke CHARACTER COUNTS! di alamat www. charactercounts.org.