Make your own free website on Tripod.com

MAKNA HAKIKI HORMAT DAN SANTUN

Ratna Megawangi

 

Kesan pertama kita menilai seseorang adalah melalui penampilan luarnya; apakah tutur katanya santun, atau perilakunya sopan dan hormat sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.  Namun penampilan luar dari seseorang saja tidak cukup, karena perilaku sopan santun seseorang kadang kala dapat menipu kita.  Bahkan banyak para penipu ulung yang perilakunya sangat hormat, tutur katanya memikat, padahal apa yang ada dihatinya adalah bagaimana mencelakakan orang lain.

 

Menurut La Bruyere, seorang filsuf Perancis, “Politeness does not always produce kindness of heart, justice, complacency, or gratitude, but it gives to man at least the appearance of it, and makes him seem externally what he really should be” (Sopan-Santun tidak selalu menghasilkan kebaikan hati, keadilan, kepuasan, atau rasa syukur, tetapi ini dapat memberikan seseorang paling tidak terlihat sopan, dan membuatnya tampak dari luar apa yang seharusnya menjadi benar-benar terhormat).

 

Maka seorang filsuf dari Perancis, Andre Comte-Sponville mengatakan bahwa perilaku sopan-santun adalah merupakan perilaku tiruan dari tindak kebajikan. Apabila demikian, pertanyaannya adalah “Perlukah kita mengajarkan anak-anak kita hormat dan santun yang ternyata hanya merupakan tiruan kebajikan?” Jawabannya adalah sangat perlu, karena menurut Comte-Sponville juga: “Politeness is that pretense, or semblance, of virtue from which the virtues arise” (Sopan-santun adalah tiruannya, atau penampakan luar, dari kebajikan yang darinya timbul kebajikan-kebajikan sebenarnya).

 

Jadi, mengajarkan sopan-santun kepada anak-anak adalah sangat diperlukan, karena sopan santun adalah awal dari pembentukan karakter anak.  Seorang anak perlu diajarkan untuk terbiasa berkata “terima kasih”, karena ini merupakan atribut luar dari ahlak yang senantiasa bersyukur atau berterima kasih atas segala anugerah yang diberikan kepadanya.  Kita mengajarkan anak-anak berkata “permisi” dan “tolong”, karena kata-kata tersebut adalah tiruan dari perilaku manusia yang selalu mengormati orang lain. Atau kata “ma’af” sebagai tiruan dari sifat pema’af.

 

Perilaku hormat dan santun yang diajarkan kepada anak-anak, dapat memberikan peluang besar bagi mereka untuk menjadi orang yang berkarakter (berakhlak mulia).  Karena atribut luar (sopan santun) perlu diajarkan dulu sebelum mengajarkan maknanya (menjadi manusia berakhlak mulia), karena anak kecil belum dapat menangkap makna dibalik apa yang terlihat secara kasat mata. Namun mengajarkan atribut luar saja tidak cukup, karena seorang anak perlu diajarkan bagaimana menjadi manusia berakhlak mulia dengan cara mempraktikannya, dan menghidupkan rasa cinta terhadap kebajikan, sehingga nuraninya menjadi hidup.

 

Apabila tidak, maka perilaku hormat dan santun tidak mempunyai makna hakiki, karena hanyalah hiasan luar saja. Ibaratnya mengajarkan anak-anak untuk memberi hormat kepada bendera setiap hari Senin, tetapi tidak mengajarkan mereka bagaimana menghormati negara dengan cara menjaga kehormatan dirinya (tidak korupsi, dan membuat keruasakan di muka bumi).