Make your own free website on Tripod.com

MENCIPTAKAN TOLERANSI DALAM KERAGAMAN

 


Russell T. Williams

(Passkeys-Jefferson Center For  Character Education-USA)

Ratna Megawangi

(Indonesia Heritage Foundation)



Keragaman itu bisa indah dan menjadi sumber kedamaian, kekokohan, dan kesejahteraan, tetapi keragaman itu juga bisa menjadi petaka dan sumber kehancuran. Semuanya tergantung pada kita semua, bagaimana kita dapat menciptakan keindahan atau petaka dari keragaman yang sudah pasti ada dan merupakan hukum alam.

Desmond Tutu, seorang yang selalu menyuarakan toleransi dan kedamaian, pernah menulis bahwa “prinsip yang paling mendasar dari kemanusiaan adalah kesaling-tergantungan. Seseorang bisa menjadi manusia melalui hubungannya dengan manusia-manusia lainnya”. Segala sesuatu dalam alam semesta tidak akan pernah lepas dari prinsip ini. Seorang sufi yang pernah tinggal di AS, Bawa Muhaiyaddeen, menggambarkan indahnya taman bunga yang beragam jenisnya. Berbagai bentuk, warna, dan wangi bunga hidup berdampingan dalam kesatuanharmoni yang indah. Masing-masing jenis mempunyai keunikan, kekurangan, dan kelebihan, namun apabila dapat hidup berdampingan, akan selalu ada mekanisme untuk saling melengkapi, mengisi, dan melindungi. Sudah terbukti bahwa pola multikultur dapat mencegah tersebarnya berbagai penyakit, karena satu jenis tanaman bisa menjadi pelindung bagi yang lainnya. Ini adalah mekanisme proteksi

alami.

Manusia kadang tidak suka dengan keragaman, dan senantiasa ingin keterpisahan dan menjadi ekslusif. Bahkan diikuti oleh kecurigaan dan kebencian atas suku, agama, dan golongan yang berbeda. Seperti halnya taman bunga yang hanya terdiri dari satu jenis tanaman saja, angin dapat menyebarkan berbagai penyakit, dan memusnahkan jenis tanaman tersebut. Dalam sebuah taman monokultur yang ada segregasi dan keterpisahan, tidak akan ada mekanisme proteksi alami, maka mala petaka pasti datang. Ketika satu gologan manusia menjadi terpisah dan membenci golongan lainnya, maka yang ada adalah saling membunuh dan saling memusnahkan.

Memang sulit untuk menghilangkan rasa kebencian atas dasar ras, suku, dan agama, apalagi kalau telah berlangsung secara turun menurun. Mungkin perlu satu generasi untuk menghilangkannya, itu pun kalau dilakukan dengan serius. Seperti halnya kita memberikan imunisasi kepada anak-anak untuk mencegah penyakit, ada baiknya kita juga memberikan vaksin untuk mencegah timbulnya rasa prejudice dan rasialialisme sebelum terlambat. “Before you are six or seven or eight, you have to be carefullytaught” menurut sebuah lirik lagu lama di Pasifik Selatan. Namun menurut Clark atau Milner, sejak anak usia 4 tahun seorang anak sudah dapat mengekspresikan sikap diskriminatif terhadap orang yang berbeda.

Di Indonesia sedikit sekali bahan bacaan atau metoda praktis untuk mengajarkan anak-anak agar bisa menghargai perbedaan. Bahkan selama kurun waktu Orde Baru, masalah SARA hampir tidak pernah dikupas, bahkan tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Potensi konflik yang mungkin timbul, tidak pernah diakui keberadaannya, sehingga segala kemungkinan-kemungkinan pencetus SARA, hanya dimasukan ke dalam “karpet”. Bangsa kita tidak pernah tahu bagaimana seharusnya memandang perbedaan yang ada, bagaimana menghormati, dan bagaimana mengatasi konflik yang akan timbul, karena tidak pernah ada mekanisme untuk belajar menghadapinya dalam dunia nyata. Akibatnya, begitu “karpet” diangkat, potensi konflik yang selama ini dorman, menjadi meledak secara berentetan.

Mungkin kita perlu belajar dari pengalaman Singapura, karena negara ini juga multi etnis dan agama, namun bisa hidup rukun dan damai. Penulis pernah datang ke beberapa sekolah TK yang difasilitasi oleh People Action Party (PAP). PAP telah membuka lebih dari 300 TK yang tersebar di seluruh Singapura. Sejak usia TK anak-anak diajarkan adanya perbedaan suku dan agama. Suku Melayu, Cina, dan India, duduk bersama di kelas, tetapi bukan untuk dihilangkan identitasnya. Pada jam-jam tertentu mereka berpisah dimana anak-anak Melayu akan diajarkan bahasa Melayu, tradisi dan kepercayaannya, dan begitu juga suku-suku lainnya. Kemudian setelah itu mereka berkumpul kembali. Setiap kurunwaktu tertentu mereka membuat kegiatan berdasarkan tema etnik. Misalnya pada tema “Malay Month”, dekorasi sekolah dihiasi oleh gambar-gambar pakaian adat Melayu, makanan Melayu, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang khas Melayu. Begitu juga pada tema ‘Chinese Month” atau “Indian Month”.

Dengan cara tersebut, anak-anak akan mengenal adanya perbedaaan, dimana perbedaan itu ternyata bisa dijadikan ajang untuk saling mengenal , bekerja sama, bahkan untuk saling menyayangi. Di lain pihak, mereka tetap bangga dengan identitas etniknya. Karena apabila seseorang tidak dapat menghargai identitas dirinya sendiri, bagaimana ia bisa menghargai identitas orang lain? Mungkin cara ini bisa diterapkan di sekolah yang potensi konfliknya tinggi.

Sebagai orang tua dan pendidik dari anak-anak kita, mudah-mudahan kita tidak mempunyai rasa kebencian dan kecurigaan kepada mereka yang berbeda bangsa, suku, dan agama. Seperti halnya pohon pisang yang berasal dari satu induk, kita semua juga berasal dari satu Pencipta.