Make your own free website on Tripod.com

SEMAI KARAKTER BANGSA

 

GAGAL MENUJU SUKSES

Russell T. Williams (Jefferson Center For Character Education, USA)

Ratna Megawangi (Indonesia Heritage Foundation)

 

            “Adalah mudah untuk bersenang hati

            Ketika hidup kita mengalir seperti sebuah lagu

            Tetapi yang patut dihargai adalah mereka yang bisa tersenyum,

            Walaupun semuanya berjalan salah

            Karena ujian hati adalah kesulitan,

            Dan ini selalu datang sepanjang masa kehidupan.

            Dan senyuman yang patut diberi pujian

            Adalah senyuman yang bersinar melalui mengalirnya air mata.”

           

Penyair Ella Wheeler Wilcox tahu betul bahwa datangnya kesulitan tidak pernah memandang umur. Entah kita berumur 7, 17, atau 70, kita dapat memastikan datangnya saat-saat mendung dalam kehidupan kita. “Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan”, sebuah kalimat yang sering kita dengar. Tidak ada mendung dan badai yang berkepanjangan, karena hari-hari cerah pasti datang sesudahnya.

 

Namun banyak orang yang tidak bisa melalui hari-hari sulit seperti menurunnya prestasi,  kehilangan kesempatan, konflik dengan teman, kalah bersaing, putus cinta dan banyak lagi. Ketidak-mampuan menghadapi kegagalan ini dapat membuat mereka menjadi gampang menyerah, malu, marah, merasa tidak berarti, takut, mencari jalan pintas untuk berhasil, frustasi, depresi, atau merasa hidup tidak berarti. Maka, bisa jadi seluruh kehidupannya menjadi “badai yang tidak pernah berlalu” yang akhirnya menciptakan “lingkaran setan” sendiri.

 

Apabila kita tidak dapat mencegah datangnya hari-hari mendung, maka hal terpenting adalah bagaimana kita dapat menghadapinya secara positif. Sukses selalu dianggap kehormatan dan kebahagiaan, sedangkan kegagalan sering dianggap memalukan. Namun sebenarnya tidak ada kesuksesan diperoleh tanpa melalui proses belajar dari kegagalan-kegagalan masa lalu. Istilah “sukses dalam satu malam” adalah hampir tidak pernah ada dalam dunia nyata.

 

Sejak usia dini anak-anak perlu diajarkan bahwa setiap orang pernah mengalami hari-hari sulit, kegagalan demi kegagalan, tetapi bukan tanpa tujuan. Kegagalan dan kesulitan bisa membawa mereka ke gerbang kesuksesan. Kegagalan perlu dipandang sebagai batu loncatan, bukan sebagai lampu merah tanda berhenti. Thomas Alva Edison yang menciptakan lampu pijar, atau Henry Ford si pencipta mobil, bisa begitu sukses dengan melalui kegagalan berkali-kali dan sikap pantang menyerah untuk terus mencoba. Kita semua pasti mempunyai pengalaman pribadi yang kalau kita ingat kembali, kita bisa bersyukur bahwa kita juga pernah gagal.

 

Memberikan motivasi kepada anak-anak untuk tetap melihat kesuksesan dan kegagalan dalam perspektif yang benar memang bukan usaha yang mudah. Kadang kala kita sebagai orang tua atau guru sering mengkritik bahkan menghukum anak didik kita yang gagal meraih prestasi seperti yang diharapkan, walaupun dilakukan dengan niat baik. Padahal masa kanak-kanak dan remaja adalah masa-masa yang penting untuk membangun rasa percaya diri. Kepercayaan diri mereka masih rapuh, dan kalau kita sering mengkritik dan menghujat kegagalannya, rasa percaya diri mereka akan hancur berantakan.

 

Seorang bayi tidak tahu bagaimana harus berjalan, tetapi ia akan terus mencoba dengan proses yang begitu sulit; jatuh berkali-kali, tangisan, mungkin benjolan di kepala. Tetapi tidak ada seorang pun yang mengkritik dan menyalahinya, apalagi menghujatnya. Sebaliknya yang ada adalah rasa empati, pelukan dan ungkapan sayang ketika ia menangis karena terjatuh, serta tepukan tangan gembira ketika ia bisa melangkah. Kalau saja ada orang tua yang mengatakan bodoh atau menghukum seorang bayi ketika jatuh karena belajar berjalan, maka ia akan berhenti dan tidak mau mencoba lagi, mungkin ia akan menjadi seorang yang lumpuh.

 

Maka, anak-anak dan remaja perlu diajarkan untuk memandang kegagalan dengan dua pandangan yang lebih positif, yaitu sebagai kesalahan atau keteledoran yang dapat diperbaiki, dan sebagai kesempatan untuk belajar dari kesalahan dalam melangkah ke depan. Anak-anak perlu mengetahui bahwa mereka adalah “lebih besar dari kegagalannya”

 

Suatu saat anak penulis yang masih kelas 6 SD pulang dari sekolah dengan wajah sedikit muram karena harus menyerahkan kertas ulangan matematika yang harus ditanda-tangani. Sewaktu penulis melihat nilainya yang jelek, tanpa memberikan kesempatan untuk berkomentar, ia langsung berkata, “Pak guru bilang, saya dapat jelek bukan karena bodoh, tetapi kurang teliti. Kalau saya lebih hati-hati katanya saya bisa dapat bagus”. Wah, ini baru guru yang bukan main. Kemudian penulis menyuruhnya untuk mengerjakan kembali soal-soal yang salah dengan teliti. Setelah diperiksa, ternyata ia dapat mengerjakan dengan benar. Dengan semangat ia berkata, “saya tahu salahnya, dan pasti saya akan lebih baik lagi”. Andaikan gurunya mengatakan ia bodoh dan mempermalukannya karena mendapat nilai jelek, mungkin ia tidak pernah menjadi begitu bersemangat. Sepotong kalimat arahan positif, bukan kritikan negatif dari seorang guru ternyata bisa begitu berarti bagi anak.

 

Anak-anak perlu mengerti bahwa mereka bisa menjadi “problem solver”. Dengan menghadapi masalah dan mencari pemecahannya, bukan menghindarinya, mereka akan membangun “otot-otot” ketegaran yang menjadi bekal mereka untuk mengarungi kehidupan yang pasti ada cuaca mendungnya silih berganti. Semakin mereka dapat menerima kegagalan sebagai kesempatan baik untuk belajar dan menjadi dewasa, semakin tinggi motivasinya untuk menerima tantangan-tantangan baru. Bahkan kesuksesan sekecil apapun akan meningkatkan rasa percaya diri dan rasa antusiasme mereka untuk menjelajahi horison kehidupan.