Make your own free website on Tripod.com

Semai Karakter Bangsa

 

 

CERITA TENTANG “SEMUA-ORANG”, “SESEORANG”, “SIAPA-SAJA”,

 “TAK- SEORANG-PUN”

 

 

Russel T. Williams (Paskeys Jefferson Centre For Education-USA)

Ratna Megawangi (Indonesia Heritage Foundation)

 

 

Ini adalah cerita tentang empat fenomena: “Semua-orang”, “Seseorang”, “Siapa–saja”, dan “Tak-seorang-pun”.  Ada satu pekerjaan penting yang harus dikerjakan oleh “Semua-orang”.  “Semua-orang “ yakin bahwa “Seseorang” akan melakukannya.  “Siapa-saja” dapat melakukan, tetapi “Tak-seorang-pun” melakukannya.  “Seseorang” menjadi marah karenanya, karena ini tugas “Semua-orang”.  “Semua-orang” berpikir “Siapa-saja” dapat melakukannya, tetapi “Tak-seorang-pun”sadar bahwa “Semua-orang” tidak mau melakukannya.  Akhinya “Semua-orang” menyalahkan “Seseorang” dimana sebenarnya “Tak-seorang-pun” mengajak ”Siapa-saja” untuk bersama melakukannya.

 

Saling menyalahkan dan mencari “kambing hitam” tampaknya sudah menjadi kebiasaan kita.  Kalau kita tidak menepati janji, kita sering mencari alasan untuk menyalahkan pihak lain, entah itu cuaca, kemacetan, atau orang lain.  Kalau kita mau jujur, segala permasalahan social yang ada, adalah disebabkan oleh rendahnya rasa tanggung jawab kita untuk selalu berbuat kebajikan.  Apabila rasa ingin selalu berbuat kebajikan hidup dalam diri seseorang, ia akan melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan, dan tidak menyalahkan atau mengandalkan orang lain.

 

Pada tahun 1997 di Worthington, Ohio, “Parteners for Citizenship and Character” (PCC) dibentuk oleh sekelompok kecil orang yang peduli akan pembangunan karakter di komunitasnya, agar lingkungan sekitarnya menjadi”home” untuk setiap orang.  Mereka mempunyai komitmen besar untuk mencari jalan agar pendidikan karakter  diberikan di sekolah-sekolah lokal dan masyarakat sekitarnya.  Dalam waktu 3 tahun, PCC telah mempunyai lebih dari 1000 anggota dan 22 orang dewan pembina yang semuanya telah sepakat  bahwa ada 8 nilai karakter yang harus diadopsi oleh setiap warga, yaitu tanggung Jawab, hormat, jujur, kasih sayang, integritas, spiritualitas, keberanian moral, dan kedisiplinan.  Mereka menggalang masyarakat untuk aktif dalam program, diskusi,  dan mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan karakter. Di Worthington, Ohio, “Seseorang” telah bertanggung jawab, dan mengajak “Siapa-saja” untuk membantu membentuk PCC.  “Setiap-orang” mendengarnya, dan sekarang. “Tak-seorang-pun” di Worthington yang mau tertinggal dalam gerakan ini.

 

Ada juga kasus menarik di Jakarta Selatan ketika penerimaan murid SMU negeri.  Banyak murid yang tidak kebagian kursi, dan Pihak Kanwil mendirikan posko untuk menampung para orang tua yang anaknya belum kedapatan kursi.  Berhari-hari banyak orang tua yang dengan sabar menunggu pengumuman tentang tersedianya kursi.  Tampaknya, ada usaha dari petugas untuk menyembunyikan informasi, Karena selalu dikatakan jatah kursi sudah habis.  “Seseorang” mengambil inisiatif untuk mendatangi posko, dan meminta petugas untuk mengumumkan secara tranparan berapa sebenarnya kursi yang tersedia di setiap SMU, dengan ditanda-tangani oleh setiap Kepala Sekolah.  “Semua-orang” beramai-ramai mendukung ide ini, dan menekan petugas untuk segera melakukannya.  “Siapa-saja” yang punya salah akan takut dengan permintaan ini.  Ternyata jatah kursi masih tersedia banyak, dan akhirnya, “Tak-seorang-pun” tidak kebagian kursi.

 

Henry Yosodiningrat, adalah “Seorang” yang telah berani mengambil inisiatif melawan narkoba.  Sekitar dua tahun yang lalu ia mengajak “Siapa-saja” yang ingin bergabung untuk mendirikan Gerakan Nasional Anti Narkoba (Granat).  Dalam waktu singkat Granat telah mempunyai jaringan di 24 propinsi di Indonesia, dan akan terus bertambah jumlahnya, karena begitu gigihnya Pak Hendry memperjuangkannya.  Ia mempertaruhkan nyawanya untuk itu, karena ia harus melawan jaringan yang terorganisir secara professional, bahkan mobilnya pernah diberondong oleh sindikat jahat tersebut.  Ia telah memulainya, dan mudah-mudahan “Semua-orang” kan mendukung Granat, sehingga “Tak-seorangpun” anak-anak kita nanti yang terlibat narkoba.

 

Memang tidak semua orang bisa menjadi pelopor untuk menggerakkan masyarakat untuk ke arah yang lebih baik.  Tetapi inisiatif untuk berbuat baik bisa dilakukan dalam bentuk apa saja, sesuai dengan kemampuan masing-masing kita.  Penulis punya sahabat baik seorang dosen IPB, Ibu Rihati Kusno, yang sudah hampir 40 tahun menderita penyakit arthritis parah.  Penyakit ini telah membuat dirinya sulit melakukan aktifitas, sehingga ia harus bekerja sambil duduk.  Kami tahu tentunya beliau pasti merasakan sakit yang luar biasa, namun tidak pernah ia mengeluhkan tentang penyakitnya, dan raut mukanya memancarkan kesabaran yang luar biasa.  Pernah ia berkata kepada penulis bahwa ia ingin sekali berbuat sesuatu yang dapat menolong orang banyak, namun ia merasa tidak bisa dan secara finansialpun ia hanya sebagai pegawai negeri saja.  Sebetulnya ia telah berbuat sesuatu yang luar biasa, yang penulis yakin semua orang di kantor pasti mendapatkan manfaat yang besar.  Dengan melihat raut mukanya yang sabar dan tidak pernah mengeluh akan penderitannya, kami bisa bercermin kepadanya bagaimana untuk bisa bersikap sabar.

 

Bahkan, berhubung Ibu Rihati selalu berada di tempat, seolah-olah setia menunggu siapa saja yang datang ke ruangannya, beliau bahkan menjadi tempat tumpahan keluh kesah dari teman-teman sekantor yang mempunyai fisik sempurna dan sehat.  “Seseorang telah meyediakan dirinya untuk menjadi pendengar yang baik, sehingga “Siapa-saja” dapat datang padanya untuk mengeluarkan keluh kesah.  “Semua-orang” percaya dan sayang kepadanya, karena “Tak-seorang-pun” merasa tidak diperhatikan.

 

Apakah kita “Seseorang” yang selalu siap untuk berbuat kebajikan?